Silahkan Baca Juga
Assalamu'alaikum ahladdiyaari minal mu'miniina wal muslimiina, antum lanaa farthun, wa inna insyaa allaahu bikum laahiquuna wa yarhamullaahul mustaqdimiina minnaa wal musta'khiriina, asalullaaha lanaa walakumul 'aafiyah.
---------------------------------------------------------------------------------
Teruntuk yang selalu setia.
Disini…, diantara ukiran nisan yang manis ini, setumpuk luka tak pernah berakhir. Di atas tanah yang tidak lagi merah ini, biarkan aku tersungkur, sejenak bersamamu, tanpa suara, tanpa airmata. Syakila, mungkin saja kau tidak tahu, disini baru saja rincik hujan berhenti dan aku tetap menemuimu. Sekarang semilir angin begitu segar, burung-burung kecil terbang dari satu pohon ke pohon yang lain, dan lihat itu, pelangi baru saja lewat, indah seperti warna senyummu yang dulu. Tidak inginkah kau melihat garis-garis warna indah itu bersama?
Syakila -mawar segar di taman yang sunyi, aku tidak peduli mulut-mulut nyinyir terus berbisik dibalik dinding yang kokoh itu, mulut-mulut angkuh karena egonya, mulut-mulut yang selalu mengatakan kalau kau adalah binatang binal yang jinak dan aku hanyalah badut penghibur. Brengsek.
Sudahlah! Syakila… setelah kepergianmu, tumpukan es seakan membeku di dada ini, terkadang pecah dan butiran kerikil yang seperti kaca itu menusuki setiap ruang hati lalu mengguratkan warna merah di seluruh tubuh ini. Kuharap kau tahu…, aku selalu merindukanmu.

Hari sudah gelap, burung malam mulai berkeliaran dan aku harus pulang.
NB: Jika ada yang melewati kuburan ini…, bisikan padanya, aku tidak menangis apalagi merintih. Satu lagi, ceritakan juga…, kuburan luka sebenarnya itu, disini (di dada ini) dan akan tetap disini
---------------------------------------------------------------------------------
Allaahumarham ghurbatahu, wa shil wahdatahu, wa anis wahsyatahu, wa amin rau'atahu, wa askin ilaihi min rahmatika yastaghnii bihaa 'an rahmatin min siwaaka, wa alhiqhu biman kaama yatawallaahu
---------------------------------------------------------------------------------
Teruntuk yang selalu setia.
Disini…, diantara ukiran nisan yang manis ini, setumpuk luka tak pernah berakhir. Di atas tanah yang tidak lagi merah ini, biarkan aku tersungkur, sejenak bersamamu, tanpa suara, tanpa airmata. Syakila, mungkin saja kau tidak tahu, disini baru saja rincik hujan berhenti dan aku tetap menemuimu. Sekarang semilir angin begitu segar, burung-burung kecil terbang dari satu pohon ke pohon yang lain, dan lihat itu, pelangi baru saja lewat, indah seperti warna senyummu yang dulu. Tidak inginkah kau melihat garis-garis warna indah itu bersama?
Syakila -mawar segar di taman yang sunyi, aku tidak peduli mulut-mulut nyinyir terus berbisik dibalik dinding yang kokoh itu, mulut-mulut angkuh karena egonya, mulut-mulut yang selalu mengatakan kalau kau adalah binatang binal yang jinak dan aku hanyalah badut penghibur. Brengsek.
Sudahlah! Syakila… setelah kepergianmu, tumpukan es seakan membeku di dada ini, terkadang pecah dan butiran kerikil yang seperti kaca itu menusuki setiap ruang hati lalu mengguratkan warna merah di seluruh tubuh ini. Kuharap kau tahu…, aku selalu merindukanmu.

Hari sudah gelap, burung malam mulai berkeliaran dan aku harus pulang.
NB: Jika ada yang melewati kuburan ini…, bisikan padanya, aku tidak menangis apalagi merintih. Satu lagi, ceritakan juga…, kuburan luka sebenarnya itu, disini (di dada ini) dan akan tetap disini
---------------------------------------------------------------------------------
Allaahumarham ghurbatahu, wa shil wahdatahu, wa anis wahsyatahu, wa amin rau'atahu, wa askin ilaihi min rahmatika yastaghnii bihaa 'an rahmatin min siwaaka, wa alhiqhu biman kaama yatawallaahu

